Permasalahan Pokok Pendidikan dan pemecahannya

BAB I

PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntunan zaman. Perkembangan zaman melalui selalu memunculkan tantangan -tantangan baru, yang sebagiannya sering tidak dapat diramalkan sebelumnya. Sebagai konsekuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Masalah yang dihadapi dunia pendidikan itu demikian luas, pertama karena sifat sasarannya yaitu manusia sebagai makhluk misteri, kedua segenap seginya terjangkau oleh kemampuan daya ramai manusia. Oleh karena itu perlu ada rumusan sebagai masalah-masalah pokok yang dapat dijadikan pegangan oleh pendidik dalam mengemban tugasnya.

Dengan mengkaji makalah ini diharapkan anda akan memahami permasalahan pokok pendidikan, dan saling kaitan antara masalah pokok tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya.

 

    1. Rumusan Masalah

  1. Apa yang menjadi permasalahan pendidikan?

  2. Bagaimana upaya pemecahan masalah pendidikan?

  3. Bagaimana saling hubungan antara masalah-masalah pokok pendidikan?

  4. Bagaimana pengaruh perkembangan IPTEK, pertumbuhan penduduk, dan aspirasi masyarakat terhadap perkembangan masalah pendidikan?

  5. Bagaimana permasalahan aktual pendidikan di tanah air?

 

 

 

 

 

 

 

    1. Tujuan

  1. Mampu mendeskripsikan masalah pokok pendidikan
  2. Mampu menjelaskan upaya pemecahan masalah pokok pendidikan

  3. Mampu menjelaskan saling hubungan antara masalah-masalah pokok pendidikan

  4. Mampu menjelaskan pengaruh perkembangan IPTEK, pertumbuhan penduduk, dan aspirasi masyarakat terhadap perkembangan masalah pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

    1. Masalah Pokok Pendidikan

Perumusan pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem. Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional . kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem tersebut di mana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern dalam sistem pendidikan itu selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan masyarakat di sekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya di luar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut komponen dan pihak.

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini yaitu :

    1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.

    2. Bagaimana pendidikan dapat terjun ke dalam kancah kehidupan bermasyarakat.

 

      1. Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan

Seperti telah di kemukakan pada bagian 2.1, pada bagian ini akan dibahas empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesepakatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud yaitu:

      1. Masalah pemerataan pendidikan

      2. Masalah mutu pendidikan

      3. Masalah efisiensi pendidikan

      4. Masalah relevan pendidikan

 

Keempat masalah tersebut akan dibahas berturut-turut pada bagian berikut ini.

  1. Masalah Pemerataan Pendidikan

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk mewujudkan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang luas bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.

Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah tidak dapat ditampung di dalam sistem lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan-pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan dalam undang-undang No. 4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah

Pasal 17 berbunyi :

“ Tiap-tiap warga negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu dipenuhi”

selanjutnya dalam kaitannya dengan wajib belajar, pasal 10 ayat 1, menyatakan :

“ semua anak yang sudah berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah, sedikitnya 6 tahun lamanya”

Landasan yuridis pemerataan pendidikan tersebut penting sekali. Artinya sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketertinggalan kita sebagai akibat penjajahan.

Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dianggap penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis dan berhitung

 

sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai berbagai media massa maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat langkah pembangunan. Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan.

 

  1. Masalah Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih dilakukan pelatihan / pemagangan bagi calon utuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja di lapangan. Jadi mutu pendi­dikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluarannya. Namun, dengan sulitnya pengukuran terhadap produk atau hasil keluaran maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mengasosiasikan dengan hasil belajar yang dikenal sebagai hasil EBTA, EBTANAS, atau hasil SipenMaru, UMPTN, karena ini yang mudah diukur. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu.

 

  1. Masalah Efisiensi Pendidikan

Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya efisiensinya berarti rendah.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah:

    1. Bagaimana tenaga pendidikan difungsikan ?

    2. Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan ?

    3. Bagaimana pendidikan diselenggarakan ?

    4. Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga?

 

masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan dan pengembangan tenaga.

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terakhir ini jatah pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga di lapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap diangkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi,sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besar dari pada kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera difungsikan. Ini berarti pemubasiran terselubung, karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwira usaha.

Masalah penempatan guru, khususnya guru bidang penempatan studi, sering mengalami kepincangan, tidak disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Suatu sekolah menerima guru baru dalam bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah kelebihan. sedang guru bidang studi yang dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan sehingga pada sekolah-sekolah tertentu seorang guru bidang studi harus merangkap mengajarkan bidang studi di luar kewenangannya. misalnya guru bahasa harus mengajarkan IPA. Gejala tersebut membawa ketidakefisienan dalam memfungsikan tenaga guru, juga pada SD meskipun kebu­tuhan, namun mengalami masalah penempatan karena terbatasnya jumlah yang dapat diangkat sulitnya menjaring tenaga yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil, karena tidak insentif yang menarik demikian pula sulitnya menempatkan guru wanita.

Masalah pengembangan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru setiap pembaharuan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari para pelaksana di lapangan. Dapat dikatakan umumnya penanganan pengembangan tenaga pelaksana di lapangan (yang berupa penyuluhan latihan lokakarya penyebaran buku panduan) sangat lambat padahal proses pembekalan untuk dapat siap melaksanakan kurikulum baru memakan waktu . akibatnya terjadi kesenjangan antara saat disenangkan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan. Dalam masa transisi yang rela­tive lama ini proses pendidikan berlangsung kurang efisien dan efektif.

Masalah efisiensi dalam penggunaan prasarana dan sarana.

Penggunaan prasarana dan sara pendidikan yang tidak efisien bias terjadi anta­ra lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan sering terjadi karena perubahan kurikulum. Banyak gedung SD Inpres (yang mulai dilancarkan pembangunannya pada akhir Pelita II) karena beberapa sebab dibangun pada lokasi yang tidak tepat. Akibatnya banyak SD yang kekurangan murid atau yang ruang belajarnya kosong. Jika kondisi yang seperti ini terdapat pada banyak kabupaten dan pada semua provinsi. maka terjadinya pemborosan tidak terelakkan sebab pembangunan tidak dapat dipindahkan lagi pula daya tahannya pun terbatas

  1. Masalah relevansi pendidikan

Pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua pengembangan yang beraneka ragam sektor produksi, sektor jasa dan lain-lain baik dari yang beraneka ragam sektor produksi, sektor jasa dan lain-lain baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan baik yang aktual (yang tersedia) maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi

    1. Pemecahan masalah pokok pendidikan
      1. Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan

Banyak macam pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah .untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvensional dan cara inovatif.

Cara konvensional antara lain:

    1. Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan belajar.

    2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat/ keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.

Cara inovatif antara lain:

  1. Sistem Pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau Inpacts System (Instructional Management by Parent, Community and. Teacher). Sistem tersebut dirintis di Solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

  2. SD kecil pada daerah terpencil.

  3. Sistem Guru Kunjung.

  4. SMP Terbuka (ISOSA – In School Out off School Approach)

      1. Pemecahan Masalah-Masalah Pendidikan

Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendidikan bersasaran pada perbaikan kualitas komponen pendidikan (utamanya komp<5nen masukan mentah untuk jenjang pendidikan menengah dan tinggi, dan komponen masukan instrumental) serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, yang akhirnya dapat meningkatkan hasil pendidikan.

Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen sebagai berikut:

  1. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya-?
    untuk SLTA dan FT. “

  2. Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut, misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.

  3. Penyempurnaan kurikulum, misalnya dengan memberi materi yang lebih esensial dan mengandung muatan lokal, metode yang menantang dan menggairahkan belajar, dan melaksanakan evaluasi yang beracuan – PAP.

  4. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar.

  5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium.

  6. Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.

  7. Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:

  1. Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan.

  2. Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas.

  3. Sistem ujian nasional/negara seperti Ebtanas, Sipenmaru / UMPTN.

  4. Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga

    1. Hubungan Saling Berkaitan antara Masalah-Masalah Pendidikan

    2. Pengaruh Perkembangan Iptek, Pertumbuhan Penduduk, dan Aspirasi Masyarakat terhadap Perkembangan Masalah Pendidikan

Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan pada butir 2.1 dan 2.2 atas merupakan masalah pengembangan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga juga harus diperhitungkan di dalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini berupa antara lain masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi dan sosial budaya, masalah perkembangan regional.

Uraian selanjutnya akan mengemukakan masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan yaitu :

    1. Perkembangan IPTEK

    2. Laju pertumbuhan penduduk

    3. Aspirasi masyarakat

    4. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan

 

    1. Perkembangan IPTEK

    1. Perkembangan IPTEK

Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kita sudah banyak mendapat pengalaman dalam hal ini. Kedua pada dasarnya orang meragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Umumnya lebih suka mengerjakan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan rutin pada dapat menerima hal baru yang belum dikenal.

Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi atau orang menerimanya. Setiap inovasi mengandung dua aspek yaitu aspek konsepsional (memuat ide, cita-cita, prinsip-prinsip) dan aspek struktur operasional (teknik Pelaksanaannya). Kepada masyarakat sasaran perlu manfaatnya, motif yang mendasarnya.

 

    1. Laju pertumbuhan Penduduk

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus didikan ditambah. Dan ini berarti beban pengembangan nasional menjadi bertambah

Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proposi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja dan penduduk usia tua meningkat berat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergeseran permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat meningkat khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan non formal

 

 

Penyebaran peduduk

 

Penyebaran penduduk di seluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk , terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu di daerah pedalaman khususnya di daerah terpencil yang berlokasi di pegunungan dan pulau-pulau sebaran penduduk seperti seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunnya SD kecuali untuk melayani kebutuhan akan pendidikan di daerah terpencil pada pelita V. Di samping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam hal penyediaan dan penempatan guru.

Di samping sebaran penduduk seperti digambarkan itu dengan pola yang statis (di kota padat, di desa jarang) juga perlu diperhitungkan adanya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) yang terus menerus terjadi peristiwa ini menimbulkan pola yang dinamis dan laibel yang lebih menyulitkan perencanaan penyediaan kerja yang seharusnya menjadi acuan dalam pengadaan tenaga kerja.

 

    1. Aspirasi Masyarakat

Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya pendidikan aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan itu maka orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah, agar nantinya anak-anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik daripada orang tua sendiri. Dorongan yang kuat ini terdapat pada anak-anak sendiri. Mereka (orang tua dan anak-anak) merasa susah jika mendapat rintangan bersekolah dan lanjut studi mungkin ini dapat dipandang sebagai indikator tentang betapa besarnya aspirasi orang tua dan anak terhadap pendidikan itu.

Akibatnya yang timbul dari perubahan sosial tersebut gejala yang timbul yaitu membanjirinya pelamar pada sekolah-sekolah arus pelajar menjadi meningkat. Di kota-kota di samping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan non formal.

    1. Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai baik. Terlepas dari kenyataan apakah apakah kebudayaan tersebut tradisional atau sudah ketinggalan zaman. Karena itu penilaian masyarakat luar itu dianggap subyektif. Semestinya masyarakat luar itu bukan harus menilainya melainkan hanya melihat bagaimana kesesuaian kebudayaan tersebut dengan tuntutan zaman. Jika sesuai dikatakan maju dan jika tidak sesuai lalu dikatakan terbelakang.

sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh:

      • Masyarakat daerah terpencil

      • Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis;

      • Masyarakat yang kurang terdidik

Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang kebudayaannya tidak ikut berperan serta dalam pembangunan, sebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya,dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka. Bukankah pendidikan mempunyai misi sebagai transformasi budaya (dalam hal ini adalah kebudayaan nasional). Sebab sistem pendidikan yang tangguh adalah yang bertumpu pada kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional selalu berkembang dengan bertumpu pada intinya sehingga tidak pernah ketinggalan zaman. Jika sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat keterbelakangan kebudayaannya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan

 

BAB III

PENUTUP

    1. Kesimpulan

Misi pendidikan ialah menyiapkan Sumber Daya Manusia untuk pembangunan, karena itu pendidikan selalu menghadapi masalah. Sebabnya karena pembangunan sendiri selalu mengikuti tuntutan zaman yang selalu berubah. Masalah yang dihadapi dunia pendidikan sangat luas dan kompleks. Pertama, karena sifat sasarannya yaitu manusia, merupakan makhluk misteri yang mengundang banyak teka-teki. Kedua, karena pendidikan harus mengantisipasi hari depan yang jiiga mengundang banyak pertanyaan. Padahal pemahaman terhadap hari depan itu penting karena menjadi acuan dari segenap perubahan yang terjadi saat ini. Oleh karena itu agar masalah-masalah pendidikan dapat dipecahkan. maka diperlukan rumusan tentang masalah-masalah pendidikan yang bersikap pokok yang dapat dijadikan acuan bagi pemecahan masalah-masalah praktis yang timbul dalam praktek pendidikan di lapangan. Dengan di kemukakan masalah-masalah pokok pendidikan. kaitan masalah -masalah pokok tersebut satu sama lain, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, Selain itu, diharapkan para pendidik memahami lebih baik maslah pendidikan yang dihadapi di lapangan. merumuskannya, serta mencari alternatif pemecahannya.

    1. Saran

Upaya yang perlu dilakukan untuk menanggulangi masalah pendidikan
salah satunya adalah pendidikan afektif perlu ditingkatkan secara terprogram tidak
cukup berlangsung hanya secara insidental. Pendekatan keterampilan proses yang
sudah disebarluaskan konsepnya perlu ditindaklanjuti dengan menyebarkan buku
panduannya kepada sekolah-sekolah. Dalam hubungan ini pelaksanaan
pendidikan kesenian perlu diberi kebutuhan khusus sehingga tidak menjadi
pelajaran kelas dua.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tirtahardja, U. & La Sulo, S.L. 2005. Pengantar pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: